Sukri Penjaga Bengawan

“Tolong …”
“Tolong …”
Semua orang kampung yang ikut lari menuju tepi bengawan tampak ketakutan. Air bengawan yang tadinya hanya mengalir tenang, tiba-tiba mengalir deras dan warnanya berubah hitam pekat.
Beberapa gelondong kayu yang tampak terbakar sebagian sisinya, ikut hanyut. Sisa-sisa penebangan liar dan juga kebakaran hutan tempo hari luluh lantak diseret air.
Pohon-pohon sisa kebakaran hutan pun tak kuasa menahan kuatnya tenaga sang badai. Menggelimpung, terkapar tak berdaya, terhanyut terbawa air bengawan. Siapa pun itu, pasti tak sanggup membayangkan nasib Sukri kecil. Entah bagaimana Sukri kecil harus berjuang.
Kakek Sukri masih belum percaya jika Sukri hilang. Mereka semua, seisi rumah Sukri, khususnya kakek Sukri, sangat yakin cucu laki-lakinya itu bisa selamat. Tinggal menunggu waktu, kapan ia akan pulang dari tugasnya membersihkan bengawan.
Malam hari setelah Sukri terbawa arus di waktu sore, Salim, bapaknya diminta untuk pergi ke hulu bengawan oleh kakek Sukri.
Di tengah guyuran hujan, ia pun tak lupa merapal banyak mantra. Sepanjang perjalanannya, aroma kayu sisa kebakaran semerbak memberi kesan tersendiri padanya. Belum lagi tanah yang lama kering itu akhirnya terguyur hujan badai, turut melengkapi kesan mistisnya.
Tak sedetik pun terbesit di pikiran Salim untuk istirahat. Hulu bengawan menjadi satu-satunya yang ada di pikirannya. Suara Sukri juga seolah datang, memanggilnya berkali-kali. Di dalam pendengarannya yang beradu dengan gemuruh arus bengawan yang kian deras di malam hari. Suara Sukri tak sedikit pun menunjukkan bahwa Sukri kecil sedang ketakutan. Bahkan, sesekali di telinganya, ia seperti mendengar Sukri sedang teriak memberi komando kepada pasukan untuk melakukan suatu gerakan yang serempak.
***
Tepat di hari kelima belas, orang-orang kampung masih merapal doa bersama kakek Sukri. Di hari Sabtu Kliwon itu pula Salim menemukan titik hulu bengawan yang ia cari. Ia melihat Sukri terkapar dengan pakaian compang-camping di samping batu yang sangat besar.
Belakangan, baru diakui Sukri kalau saat itu ia sedang memandu para jin memindahkan batu yang membendung bengawan. Sebelum air makin membesar, batu itu harus dipindahkan Sukri dan pasukannya. Jika tidak, batu itu akan menahan air dan dampaknya justru lebih besar. Batu itu akan ikut menggilas perkampungan di sepanjang aliran bengawan hingga hilir.
***
Cerita Sukri kecil pun akhirnya menjadi pengalaman batin tersendiri bagi Sukri, keluarganya, juga orang-orang di kampungnya. Sejak saat itu orang-orang kampung meyakini pentingnya menjaga hutan. Setiap Sukri libur berjualan, ia memanfaatkan waktu untuk melakukan penyusuran bengawan hingga ke hulunya. Sukri sengaja melakukan perjalanan itu untuk sekadar melihat dan mengingat peristiwa yang menimpanya di masa kecil. Sekaligus memastikan hutan-hutan itu masih aman setiap tahunnya.
(Diringkas dari cerpen "Sukri Penjaga Bengawan" karya A. Muhaimin DS yang terbit di mediaindonesia.com)