Contoh Soal TKA

Bahasa Indonesia SMA

Persiapan TKA: Peta Terpercaya Menuju Sukses Ujian

Menghadapi Tes Kompetensi Akademik (TKA) tidak lagi harus membingungkan. Kejarcita menghadirkan program Persiapan TKA yang dirancang khusus sebagai "peta dan kompas" bagi sekolah untuk mempersiapkan ujian dengan akurat. Kami mengintegrasikan teknologi dan strategi untuk memastikan guru dan siswa melangkah dengan penuh keyakinan. Melalui program ini, Guru dapat mengoptimalkan strategi pengajaran dengan memahami tren pola soal dan tingkat kesulitan TKA secara mendalam. Di sisi lain, Siswa diajak untuk mengenal kekuatan diri melalui latihan yang terfokus pada area pengembangan yang paling krusial.

Keunggulan Utama Kami:

  • Bank Soal Komprehensif: Ribuan soal TKA asli dan terbaru dengan pembahasan mendalam untuk mengasah kemampuan analitis.
  • Simulasi Realistis: Platform tryout dengan sistem dan tampilan yang menyerupai ujian aslinya, membantu siswa beradaptasi dengan tekanan waktu.
  • Teknik & Strategi: Pelatihan khusus untuk menguasai manajemen waktu dan ketajaman dalam menjawab soal tanpa terjebak.
Lengkapi sekolah dengan persiapan yang terukur dan efektif. "Dengan mengetahui medan, langkah kita menjadi lebih mantap".

    1.

    Guru Safedi

    (Sumber: ilustrasi blue monday dari Freepik.com,)

    Entah sudah kali keberapa istri Safedi menumpahkan perasaannya tentang biaya hidup yang tak bisa dipenuhi. Pekerjaan sebagai guru honorer, dengan gaji sekali tiga bulan yang diterima Safedi, membuat dia kewalahan dalam mengatur biaya hidup sehari-hari. Safedi pun paham, karena dalam tiga bulan, dia hanya menerima uang sebanyak seratus delapan puluh ribu rupiah. Dengan uang sebanyak itu, tentu istrinya sangat sulit mengatur biaya hidup mereka.

    “Utang kita sudah dua ratus tujuh puluh lima ribu rupiah, Da. Bulan esok Uda hanya menerima seratus delapan puluh ribu rupiah. Kalau terus-terus begini, terpaksa Aisia akan tetap berutang ke sana-kemari. Aisia ingin Uda mencari usaha lain. Aisia tidak tahan bila Uni Ami merungut meminta uangnya terus," ujar Aisia dengan gundah.

    Lalu Safedi terdiam.

    Safedi kemudian berangkat mengajar seolah tidak ada pilihan lain selain melanjutkan hidupnya dengan cara demikian.

    Pagi itu Safedi masuk kelas dengan senyum. “Assalamualaikum,” sapanya. Murid-murid menjawab serempak, “Waalaikumsalam.” Ia sudah siap mengajar, tapi semangatnya runtuh ketika mendengar bisik-bisik di belakang. “Sudah tiga hari celana bapak itu sama terus,” ucap Anton. Jamaldi menimpali, “Bajunya juga, kemeja kotak-kotak itu lagi, itu lagi.” Safedi hanya terdiam. Hatinyalah yang justru sakit karena sadar sindiran itu benar.

    Selesai pelajaran, Safedi pulang dengan langkah gontai. Di jalan, seorang bapak menyapanya, “Pak guru, katanya sekolah gratis, tapi kenapa tiap semester kami tetap bayar Rp375 ribu?” Safedi bingung, lalu menjawab pelan, “Saya tidak tahu itu, Pak.” Si bapak mengernyit, “Masak guru tidak tahu? Guru macam apa kamu?” ucapan tersebut membuat Safedi semakin tersudut.

    Safedi memilih berlalu, tapi dari kejauhan ia masih mendengar sindiran, “Guru kalera, mungkin ikut makan uang murid.” Kata-kata itu terasa lebih berat daripada langkah kakinya di jalan berkerikil. Hari itu Safedi benar-benar pulang dengan hati remuk—lelah, malu, dan merasa tak berdaya menghadapi nasibnya.

    (Cerpen Karya Farizal Sikumbang, dengan penyesuaian)

    Dalam cerpen tersebut, Safedi dijuluki guru kalera oleh seorang bapak. Julukan ini menggambarkan fenomena ….

    A

    tuduhan tak berdasar sebagai pelampiasan kekecewaan

    B

    kesalahpahaman si bapak mengenai kondisi guru

    C

    prasangka yang muncul akibat kesalahan informasi

    D

    anggapan si bapak terhadap perilaku guru honorer

    E

    keraguan si bapak terhadap kejujuran seorang guru

    Pembahasan:

    Untuk menjawab soal tersebut, kita perlu melihat hal yang melatarbelakangi munculnya julukan guru kalera dalam cerpen. Julukan tersebut muncul setelah seorang bapak mempertanyakan pungutan sekolah dan menuduh Safedi ikut makan uang murid.

    • tuduhan tak berdasar sebagai pelampiasan kekecewaan → tepat. Berdasarkan teks tersebut, si bapak memang menuduh Safedi ikut menikmati uang sekolah, yang menurutnya tidak semestinya dipungut. Si bapak merasa kecewa karena harus membayar uang sekolah padahal mengira itu gratis. Ia tidak tahu pasti duduk perkara uang sekolahnya, tetapi memilih untuk melampiaskan kekecewaannya pada Safedi yang kebetulan sedang lewat.
    • kesalahpahaman si bapak mengenai kondisi guru → tidak tepat. Si bapak kemungkinan tidak paham tentang masalah uang sekolah maupun kondisi atau perilaku Safedi. Ia merasa kecewa dan memilih untuk melampiaskan kekecewaannya pada Safedi.
    • prasangka yang muncul akibat kesalahan informasi → tidak tepat. Si bapak memang berprasangka pada pihak sekolah tanpa pandang bulu. Namun, informasi tentang pungutan uang sekolah belum tentu merupakan kesalahan informasi. Bisa saja si bapak yang salah paham atau salah ingat  informasi yang didengarnya.
    • anggapan si bapak terhadap perilaku guru honorer → tidak tepat. Si bapak menuduh Safedi secara pribadi, bukan guru honorer secara umum. Selain itu, ucapan si bapak lebih berupa pelampiasan kekecewaan dibandingkan persepsi negatif tentang guru secara umum.
    • keraguan si bapak terhadap kejujuran seorang guru → tidak tepat. Keraguan si bapak lebih bersifat pribadi dibandingkan guru secara umum. Mungkin memang si bapak meragukan kejujuran Safedi, tetapi tuduhannya lebih mencerminkan pelampiasan kekecewaan dibanding keraguannya.

    Dengan demikian, jawaban yang tepat adalah tuduhan tak berdasar sebagai pelampiasan kekecewaan.

    2.

    Guru Safedi

    (Sumber: ilustrasi blue monday dari Freepik.com,)

    Entah sudah kali keberapa istri Safedi menumpahkan perasaannya tentang biaya hidup yang tak bisa dipenuhi. Pekerjaan sebagai guru honorer, dengan gaji sekali tiga bulan yang diterima Safedi, membuat dia kewalahan dalam mengatur biaya hidup sehari-hari. Safedi pun paham, karena dalam tiga bulan, dia hanya menerima uang sebanyak seratus delapan puluh ribu rupiah. Dengan uang sebanyak itu, tentu istrinya sangat sulit mengatur biaya hidup mereka.

    “Utang kita sudah dua ratus tujuh puluh lima ribu rupiah, Da. Bulan esok Uda hanya menerima seratus delapan puluh ribu rupiah. Kalau terus-terus begini, terpaksa Aisia akan tetap berutang ke sana-kemari. Aisia ingin Uda mencari usaha lain. Aisia tidak tahan bila Uni Ami merungut meminta uangnya terus," ujar Aisia dengan gundah.

    Lalu Safedi terdiam.

    Safedi kemudian berangkat mengajar seolah tidak ada pilihan lain selain melanjutkan hidupnya dengan cara demikian.

    Pagi itu Safedi masuk kelas dengan senyum. “Assalamualaikum,” sapanya. Murid-murid menjawab serempak, “Waalaikumsalam.” Ia sudah siap mengajar, tapi semangatnya runtuh ketika mendengar bisik-bisik di belakang. “Sudah tiga hari celana bapak itu sama terus,” ucap Anton. Jamaldi menimpali, “Bajunya juga, kemeja kotak-kotak itu lagi, itu lagi.” Safedi hanya terdiam. Hatinyalah yang justru sakit karena sadar sindiran itu benar.

    Selesai pelajaran, Safedi pulang dengan langkah gontai. Di jalan, seorang bapak menyapanya, “Pak guru, katanya sekolah gratis, tapi kenapa tiap semester kami tetap bayar Rp375 ribu?” Safedi bingung, lalu menjawab pelan, “Saya tidak tahu itu, Pak.” Si bapak mengernyit, “Masak guru tidak tahu? Guru macam apa kamu?” ucapan tersebut membuat Safedi semakin tersudut.

    Safedi memilih berlalu, tapi dari kejauhan ia masih mendengar sindiran, “Guru kalera, mungkin ikut makan uang murid.” Kata-kata itu terasa lebih berat daripada langkah kakinya di jalan berkerikil. Hari itu Safedi benar-benar pulang dengan hati remuk—lelah, malu, dan merasa tak berdaya menghadapi nasibnya.

    (Cerpen Karya Farizal Sikumbang, dengan penyesuaian)

    Jika cerita dilanjutkan, kemungkinan yang akan terjadi adalah ...

    Tentukan Tepat dan Tidak Tepat untuk setiap penyataan berikut!

    Pembahasan:

    Untuk menjawab soal tersebut, kita perlu melihat masalah yang sedang dihadapi tokoh dan tindakan yang paling logis sesuai karakter dan situasi Safedi dalam teks.

    • Safedi mencari pekerjaan sampingan untuk membantu keluarganya → tepat. Berdasarkan teks tersebut, Aisia dengan jelas meminta Safedi mencari usaha tambahan. Safedi terkesan seperti orang yang bertanggungjawab, jadi ia mungkin akan berusaha memenuhi permintaan istrinya.
    • Murid-murid meminta maaf setelah menyadari kesulitan gurunya → tepat. Sebagai seorang guru, Safedi terkesan dihormati oleh murid-muridnya. Buktinya, mereka masih menanggapi sapaan Safedi. Jadi, jika mereka tahu kondisi Safedi, mereka mungkin akan merasa bersalah karena sudah mengejek pakaian Safedi.
    • Aisia memilih diam dan tidak pernah menyampaikan keluhannya lagi → tidak tepat. Pada teks di atas, Aisia berulang kali mengeluh karena kesulitan ekonomi yang mereka alami. Sepertinya memang sifat Aisia yang menyampaikan keluhan jika ada masalah yang dihadapinya. Jadi, Aisia berhenti mengeluh hanya jika kondisinya terpenuhi, misalnya dengan adanya gaji tambahan dari pekerjaan sampingan Safedi. Namun jika gaji tambahan Safedi masih belum cukup juga, atau sampingan Safedi menimbulkan masalah lain, maka Aisia bisa jadi masih menyampaikan keluhannya.
    • Safedi memilih berhenti mengajar karena tertekan dengan keadaan → tidak tepat. Safedi terkesan seperti orang yang bertanggungjawab pada keluarganya, jadi rendah kemungkinannya ia memilih untuk berhenti mengajar. Ini karena keluarganya bergantung pada upah kerjanya untuk biaya hidupnya. Jika ia berhenti mengajar, maka keluarganya akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

    Dengan demikian, jawaban yang tepat adalah Tepat, Tepat, Tidak Tepat, dan Tidak Tepat.

    Ingin coba latihan soal dengan kuis online?

    Kejar Kuis
    3.

    Lingkaran Valeriepieris

    Teks 1

    Populasi manusia dunia sekarang melebihi 7,5 miliar, tetapi jumlah ini tidak didistribusikan secara merata di atas tanah yang tersedia. Misalnya, lebih sedikit manusia yang tinggal di gurun daripada di sepanjang garis pantai dan lebih banyak orang yang tinggal di kota daripada di pedesaan. Akan tetapi, yang mungkin mengejutkan adalah adanya satu wilayah geografis di permukaan Bumi dengan diameter sekitar 8.000 kilometer di mana lebih dari separuh dari semua manusia tinggal. Hal ini berarti penduduk dalam wilayah ini sangat padat, karena wilayah sekecil ini memuat sangat banyak manusia.

    Konsep wilayah ini diperkenalkan pertama kalinya pada tahun 2013. Saat itu, seorang pengguna situs Reddit bernama "Valeriepieris" membuat tampilan visual yang menarik perhatian internet. Valeriepieris, yang jati dirinya adalah seorang guru bernama Ken Myers, mengamati dan memverifikasi kenyataan bahwa lebih banyak orang yang tinggal di dalam lingkaran yang terdiri dari 21 negara—termasuk Cina, India, dan negara-negara Asia Tenggara—daripada yang tinggal di luarnya. Lingkaran itu tidak hanya mencakup seperenam dari daratan dunia dan termasuk Mongolia, salah satu negara dengan populasi paling jarang di dunia, tetapi sebagian besar juga terdiri dari lautan yang tidak dapat ditinggali.

    Lingkaran Valeriepieris menjadi hangat dibicarakan di Reddit. Topik ini pun diangkat oleh beberapa situs berita, termasuk The Washington Post dalam artikelnya " 40 peta yang menjelaskan dunia." Tapi apakah ada lingkaran terpadat yang ukurannya lebih kecil lagi?

    Pada tahun 2015, Danny Quah, seorang profesor ekonomi di London School of Economics and Political Science, meninjau ulang lingkaran Valeriepieris. Quah menggunakan proyeksi pemetaan yang berbeda dan mengajukan pertanyaan yang sedikit berbeda dari Myers: Manakah lingkaran terkecil di Bumi dengan lebih banyak orang yang tinggal di dalam daripada di luar? Quah berhasil menemukan jawabannya dengan memindahkan lingkarannya sedikit untuk mengecualikan sebagian besar Jepang. Di blognya sendiri, Quah mengakui bahwa sebenarnya "Ken Myers adalah pelopor ide ini."


    Teks 2

    Bernie Cho—presiden agensi musik K-Pop DFSB Collective—berpendapat bahwa di Korea Selatan tidak ada lagi perbedaan yang jelas antara anak muda, musik pop, dan budaya digital. Berbagai hal tersebut telah bersatu dan disebut sebagai Korean Wave (hallyu). Saat ini, banyak penggemar hallyu yang mendengarkan lagu favorit dari tangga lagu di semua platform, menari mengikuti musik dari TikTok, dan membuat subtitle untuk video baru.

    Hallyu berasal dari Korea, tetapi sudah menyebar keluar Korea sejak lama. Kebanyakan kelompok penyebarannya berasal dari luar negeri, seperti Amerika Serikat, Kanada, Indonesia, India, Jepang, atau Filipina.

    Bagaimana hal ini bisa terjadi? Salah satu faktor penyebabnya yaitu keuntungan dari kondisi geografi dan sejarah. Korea terletak di dalam Lingkaran Valeriepieris. Ada lebih banyak orang yang tinggal dalam lingkaran tersebut daripada yang tinggal di luarnya. Artinya, Korea berada di tengah pasar besar negara-negara yang berpenduduk banyak dan sebagian sangat maju, seperti Jepang atau Tiongkok. Banyak anak muda di negara-negara tersebut mendambakan kemakmuran dan kesejukan yang dirayakan dalam Korean Wave. Berangkat dari pangsa anak muda di negara-negara inilah, hallyu melaju dan menjadi tren di seluruh dunia.

    (Dikutip dari berbagai sumber, dengan penyesuaian)

    Menurut teks di atas, alasan penyebaran hallyu di hampir seluruh dunia adalah …. (Pilih semua jawaban yang benar!)

    A

    adanya pengaruh dari Lingkaran Valeriepieris

    B

    upaya pemerintah dalam mendukung hallyu

    C

    budaya Korea memang relatif lebih menarik

    D

    Korea terletak di dekat pasar Jepang dan Cina

    E

    musik dan film Korea hadir di semua platform

    Pembahasan:

    Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita dapat mencermati kutipan berikut.

    Bagaimana hal ini bisa terjadi? Salah satu faktor penyebabnya yaitu keuntungan dari kondisi geografi dan sejarah. Korea terletak di dalam Lingkaran Valeriepieris. Ada lebih banyak orang yang tinggal dalam lingkaran tersebut daripada yang tinggal di luarnya. Artinya, Korea berada di tengah pasar besar negara-negara yang berpenduduk banyak dan sebagian sangat maju, seperti Jepang atau Cina. 

    Dari kutipan di atas, yang disebut sebagai faktor penyebab adalah kondisi geografi dan sejarah. Tidak disebut mengenai upaya pemerintah, budaya Korea, maupun kehadiran musik dan film Korea di semua platform

    Jadi, pilihan jawaban yang benar adalah adanya pengaruh dari Lingkaran Valeriepieris dan Korea terletak di dekat pasar Jepang dan Cina.

    4.

    Nelayan Pensiun

    Hukoo memeriksa beberapa jala dan joran pancing yang telah ia tebarkan dan sebarkan semenjak tiba di lokasi. Benar-benar tak ada ikan yang masuk dan terperangkap ke dalamnya. Juga tak ada ikan yang terkait pada kail pancing. Padahal, sudah enam jam ia berada di situ. ”Ke mana ikan-ikan itu?” keluhnya kepada diri sendiri.

    Sepulang dari melaut, ia lalu mengambil katapel dari dalam perahunya. Kemudian berjalan kaki memasuki hutan belantara. Hukoo masih terus berjalan memasuki hutan belantara hingga mentok dan bertemu sebuah lahan yang dikelilingi pagar seng, bertuliskan: Kawasan Kebun Sawit Milik Perusahaan.

    Kebanyakan buruh itu adalah kawan-kawannya di kampung. Sebulan yang lalu Lamijo dan Reben memutuskan untuk pensiun jadi nelayan. Menurut mereka, meski nenek moyang mereka adalah nelayan, kini zaman telah berubah. Barangkali sungai besar dan panjang yang seharusnya memberikan manfaat bagi warga yang menjalani hidup sebagai nelayan tak lagi menunjukkan berkahnya.

    Kendati begitu, tidak pernah ada hasil penelitian yang memberikan kesimpulan secara serius bahwa aktivitas lalu-lalang tongkang batu bara dan pembukaan lahan sawit di daerah itu berdampak pada ekosistem dan keanekaragaman hayati ikan-ikan di sungai tersebut. Hal itulah yang membuat Hukoo belum menyerah jadi nelayan. Namun, ia dilema dengan melihat teman-temannya yang memilih berhenti menjadi nelayan.

    Hari ini Hukoo memilih mencari ikan di sungai yang menjadi saksi bisu aktivitas tongkang batu bara. Namun, ia tak habis pikir. Semenjak ia tiba di lokasi dan memasang jala, ikan-ikan seolah-olah datang menyerahkan diri kepadanya. Tak heran, betapa sibuknya Hukoo menjemput beragam jenis ikan yang menjadi keistimewaan sungai itu. Puluhan ikan begitu cepat terperangkap di dalam jalanya. Meskipun matahari belum tepat berada di atas kepala, kini perahu miliknya sudah hampir penuh oleh ikan patin, lawang, pipih, lais, seluang, dan beberapa udang galah. Semua masih segar dan berlompatan.

    ”Benar-benar ramai seperti dulu lagi,” Hukoo tersenyum semringah.

    Hukoo masih sibuk menjemput ikan-ikan yang terperangkap di dalam jalanya. Tampaknya ia tak memedulikan suara klakson kapal penarik tongkang batu bara yang telah menjerit-jerit semenjak tadi. Bukan cuma menjerit, bahkan telah meraung-raung layaknya suara trompet akhir zaman. Setidaknya, akhir bagi laki-laki itu.

    (Diringkas dari cerpen "Nelayan Pensiun" karya M. Amin Mustika Muda yang terbit di jawapos.com)

    Alasan Hukoo belum mau berhenti menjadi nelayan adalah ...

    A

    Hukoo masih belum tahu apa yang akan ia lakukan untuk mencari nafkah jika pada akhirnya ia berhenti menjadi nelayan di desanya.

    B

    Hukoo masih berpegang teguh pada petuah orang tuanya untuk menjaga ekosistem sungai dan kelestarian ikan di sungai tersebut.

    C

    Hukoo masih berharap sungai di daerahnya bisa tetap berlanjut menjadi sumber penghasilan dan keberkahan bagi keluarganya.

    D

    Hukoo meyakini kalau ekosistem sungai tersebut sebenarnya belum dirusak aktivitas pertambangan dan pembukaan lahan sawit.

    E

    Hukoo berhasil dibujuk oleh istrinya untuk tetap bertahan menjadi seorang nelayan yang mencari nafkah di sungai tersebut.

    Pembahasan:

    Pernyataan yang menjelaskan alasan Hukoo belum mau berhenti menjadi nelayan adalah Hukoo meyakini kalau ekosistem sungai tersebut sebenarnya belum dirusak aktivitas pertambangan dan pembukaan lahan sawit. 

    Hal ini dapat dicermati pada kutipan berikut.

    Kendati begitu, tidak pernah ada hasil penelitian yang memberikan kesimpulan secara serius bahwa aktivitas lalu-lalang tongkang batu bara dan pembukaan lahan sawit di daerah itu berdampak pada ekosistem dan keanekaragaman hayati ikan-ikan di sungai tersebut. Dan karena itulah, Hukoo belum menyerah jadi nelayan.

    Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Hukoo berpegang pada hasil penelitian. Karena belum ada hasil penelitian yang memberikan kesimpulan secara serius kalau hasil sungai sudah terdampak aktivitas manusia, Hukoo  memutuskan untuk bertahan menjadi nelayan. Ia masih berharap kalau aktivitas tongkang dan pembukaan lahan tidak berdampak negatif pada hasil tangkapan ikan di sungai, sehingga ia bisa terus berprofesi sebagai nelayan.

    Ingin cari soal-soal HOTS?

    Soal HOTS
    5.

    Sukri Penjaga Bengawan

    “Tolong …”

    “Tolong …”

    Semua orang kampung yang ikut lari menuju tepi bengawan tampak ketakutan. Air bengawan yang tadinya hanya mengalir tenang, tiba-tiba mengalir deras dan warnanya berubah hitam pekat.

    Beberapa gelondong kayu yang tampak terbakar sebagian sisinya, ikut hanyut. Sisa-sisa penebangan liar dan juga kebakaran hutan tempo hari luluh lantak diseret air.

    Pohon-pohon sisa kebakaran hutan pun tak kuasa menahan kuatnya tenaga sang badai. Menggelimpung, terkapar tak berdaya, terhanyut terbawa air bengawan. Siapa pun itu, pasti tak sanggup membayangkan nasib Sukri kecil. Entah bagaimana Sukri kecil harus berjuang.

    Kakek Sukri masih belum percaya jika Sukri hilang. Mereka semua, seisi rumah Sukri, khususnya kakek Sukri, sangat yakin cucu laki-lakinya itu bisa selamat. Tinggal menunggu waktu, kapan ia akan pulang dari tugasnya membersihkan bengawan.

    Malam hari setelah Sukri terbawa arus di waktu sore, Salim, bapaknya diminta untuk pergi ke hulu bengawan oleh kakek Sukri.

    Di tengah guyuran hujan, ia pun tak lupa merapal banyak mantra. Sepanjang perjalanannya, aroma kayu sisa kebakaran semerbak memberi kesan tersendiri padanya. Belum lagi tanah yang lama kering itu akhirnya terguyur hujan badai, turut melengkapi kesan mistisnya.

    Tak sedetik pun terbesit di pikiran Salim untuk istirahat. Hulu bengawan menjadi satu-satunya yang ada di pikirannya. Suara Sukri juga seolah datang, memanggilnya berkali-kali. Di dalam pendengarannya yang beradu dengan gemuruh arus bengawan yang kian deras di malam hari. Suara Sukri tak sedikit pun menunjukkan bahwa Sukri kecil sedang ketakutan. Bahkan, sesekali di telinganya, ia seperti mendengar Sukri sedang teriak memberi komando kepada pasukan untuk melakukan suatu gerakan yang serempak.

    ***

    Tepat di hari kelima belas, orang-orang kampung masih merapal doa bersama kakek Sukri. Di hari Sabtu Kliwon itu pula Salim menemukan titik hulu bengawan yang ia cari. Ia melihat Sukri terkapar dengan pakaian compang-camping di samping batu yang sangat besar.

    Belakangan, baru diakui Sukri kalau saat itu ia sedang memandu para jin memindahkan batu yang membendung bengawan. Sebelum air makin membesar, batu itu harus dipindahkan Sukri dan pasukannya. Jika tidak, batu itu akan menahan air dan dampaknya justru lebih besar. Batu itu akan ikut menggilas perkampungan di sepanjang aliran bengawan hingga hilir.

    ***

    Cerita Sukri kecil pun akhirnya menjadi pengalaman batin tersendiri bagi Sukri, keluarganya, juga orang-orang di kampungnya. Sejak saat itu orang-orang kampung meyakini pentingnya menjaga hutan. Setiap Sukri libur berjualan, ia memanfaatkan waktu untuk melakukan penyusuran bengawan hingga ke hulunya. Sukri sengaja melakukan perjalanan itu untuk sekadar melihat dan mengingat peristiwa yang menimpanya di masa kecil. Sekaligus memastikan hutan-hutan itu masih aman setiap tahunnya.

    (Diringkas dari cerpen "Sukri Penjaga Bengawan" karya A. Muhaimin DS yang terbit di mediaindonesia.com)

    Usaha yang dilakukan untuk menemukan Sukri adalah ....

    (Pilih semua jawaban benar!)

    A

    menyusur tepi sekitar bengawan

    B

    merapalkan doa-doa untuk Sukri

    C

    meminta bantuan pihak luar

    D

    berenang menyusur bengawan

    E

    melakukan ritual adat daerah

    Pembahasan:

    Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita dapat melihat kutipan berikut ini.

    • Malam hari setelah Sukri terbawa arus di waktu sore, Salim, bapaknya diminta untuk pergi ke hulu bengawan oleh kakek Sukri.
    • Tepat di hari kelima belas, orang-orang kampung masih merapal doa bersama kakek Sukri.

    Kutipan tersebut menunjukkan upaya-upaya yang dilakukan oleh keluarga dan warga sekitar untuk dapat menemukan Sukri.

    Jadi pilihan jawaban yang tepat adalah menyusur tepi sekitar bengawan dan merapalkan doa-doa untuk Sukri.

    6.

    Sang Ahli Waris

    Itulah kedelapan ritual yang harus kamu lakukan.

    Kupasrahkan padamu, rawatlah ia.

    Pesan Nyi kepadaku untuk menjaga topeng-topeng kesayangannya.

    Aku benci menjadi ahli waris. Jika harta yang diwariskan, tentu aku tak akan mengomel. Sayang, Nyi tidak punya harta berlebih untuk dia bagikan. Beliau tidak mewariskan apa pun, kecuali topeng. Benda bisu yang sangat dia sayangi.

    Nyi adalah panggilanku untuk Nenek. Nyi Salimah. Kata orang dan aku pun mengakui, Nyi Salimah adalah penari topeng dan tari topeng adalah Nyi Salimah. Dua sisi yang berkait, tak bisa dipisahkan. Nyi adalah maestro. Tak hanya di dalam negeri, beliau bahkan pernah mencicipi empat musim di negara manca sebagai duta seni. Hidup Nyi untuk menari topeng. Namun, kini Nyi tinggal kenangan. Selepas kepergian Nyi aku mulai menari topeng menggantikan Nyi.

    Suatu hari setelah menari Ibu memarahiku karena topengku tidak selaras. Topeng yang kupakai hanya itu-itu saja. Hal itu karena aku menganggap banyak hal mistis di topeng itu. Akhirnya, Ibu memintaku untuk membuka kardus yang berisi topeng. Bau apak menguar. Aku terbatuk.

    “Ritual yang Nyi lakukan pada topeng-topeng itu bukan perkara mistis.” Ibu sedang menguliti kebodohanku. Ibu menjabarkan satu per satu dari delapan perintah Nyi, mengingatkanku pada wasiat Nyi yang kuabaikan.

    “Tidak dijemur di bawah terik matahari dan cukup angin-anginkan agar cat topeng tidak cepat rusak. Topeng itu harus diangin-anginkan karena lembap terkena keringat, uap air, dan riasan saat pentas. Jika engkau menjemur hari Minggu, tentulah badanmu lelah setelah malam hari pentas. Maka Nyi meminta kau menjemur hari Senin karena telah cukup istirahat.”

    Ibu meneruskan penjelasannya. “Itulah mengapa Nyi minta kau simpan di tempat kering serta kau asapi untuk menjaga kayu itu tetap utuh, tak dimakan hewan kecil atau menunda lapuk termakan usia. Perlakuan Nyi selama ini bukan kesyirikan. Bau wangi ratus itu pun untuk mengusir binatang kecil, mengurangi bau tak sedap.”

    Nyi yang buta huruf ternyata wanita cerdas.

    “Kau tidak pernah merawat. Abai pada perintah Nyi.”

    Ruangan senyap.

    “Kini topeng-topeng itu membalas perlakuanmu.” Ibu mendengus, kecewa.

    Aku terpaku memandang topeng-topeng yang membisu itu. Menunggu waktu untuk membuang dan tinggal menyisakan kenangan.

    (Diringkas dari cerpen "Ahli Waris" karya Hartari yang terbit di lakonhidup.com)

    Nyi memperlakukan topeng-topengnya secara istimewa karena topeng-topeng tersebut ....

    A

    adalah barang langka

    B

    perlu dijaga kondisinya

    C

    warisan dari ibunya

    D

    memiliki kekuatan magis

    E

    bagian dari Nyi sendiri

    Pembahasan:

    Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita dapat mencermati kutipan berikut.

    Akhirnya Ibu memintaku untuk membuka kardus yang berisi topeng. Bau apak menguar. Aku terbatuk.

    “Ritual yang Nyi lakukan pada topeng-topeng itu bukan perkara mistis.” Ibu sedang menguliti kebodohanku. Ibu menjabarkan satu per satu dari delapan perintah Nyi, mengingatkanku pada wasiat Nyi yang kuabaikan.

    “Tidak dijemur di bawah terik matahari dan cukup angin-anginkan agar cat topeng tidak cepat rusak. Topeng itu harus diangin-anginkan karena lembap terkena keringat, uap air, dan riasan saat pentas. Jika engkau menjemur hari Minggu, tentulah badanmu lelah setelah malam hari pentas. Maka Nyi meminta kau menjemur hari Senin karena telah cukup istirahat.”

    Ibu meneruskan penjelasannya. “Itulah mengapa Nyi minta kau simpan di tempat kering serta kau asapi untuk menjaga kayu itu tetap utuh, tak dimakan hewan kecil atau menunda lapuk termakan usia. Perlakuan Nyi selama ini bukan kesyirikan. Bau wangi ratus itu pun untuk mengusir binatang kecil, mengurangi bau tak sedap.”

    Kutipan tersebut menunjukkan bahwa topeng diberikan perawatan khusus agar kondisinya tetap baik dan awet.

    Jadi, pilihan jawaban yang benar adalah topeng-topeng tersebut perlu dijaga kondisinya.

    Ingin cari soal-soal AKM?

    Hubungi Kami
    7.

    Banun Kikir

    (Sumber: ilustrasi farmer's day dari freepik.com)

    Sesungguhnya Banun sangat ingat siapa orang yang pertama menjulukinya Banun Kikir. Nama buruk itu lahir dari Palar, lelaki ahli waris tunggal yang tak pernah sanggup berkubang lumpur sawah. Tidak seperti petani lain, Palar lebih memilih membeli segala kebutuhan di pasar. Pekarangannya gersang, kolamnya kering, bahkan sebatang singkong pun tak tumbuh karena baginya menanam hanya membuang waktu.

    Selama masih tersedia di pasar, kenapa harus ditanam? Begitu kira-kira prinsip hidup Palar. Baginya, bercocok tanam aneka tumbuhan untuk kebutuhan makan sehari-hari, hanya akan membuat pekerjaan di sawah jadi terbengkalai. Lagi pula, bukankah ada tauke yang selalu berkenan memberi pinjaman, selama orang tani masih mau menyemai benih? Namun, tauke-tauke yang selalu bermurah-hati itu, bahkan sebelum sawah digarap, akan mematok harga jual padi seenak perutnya, dan para petani tidak berkutik dibuatnya.

    Perangai lintah darat itu sudah merajalela, bahkan sejak Banun belum mahir menyemai benih. Palar salah satu korbannya. Dua pertiga lahan sawah yang diwarisinya telah berpindah tangan pada seorang tauke, lantaran dari musim ke musim hasil panennya merosot. Palar juga terpaksa melego beberapa petak sawah guna membiayai kuliah Rustam, anak laki-laki satu-satunya, yang kelak bakal menyandang gelar insinyur pertanian. 

    Dalam himpitan hutang, Palar datang meminang Rimah untuk Rustam. Namun Banun menolak.

    “Pinanganmu terlambat. Rimah sudah punya calon suami,” balas Banun dengan sorot mata sinis.

    “Keluargamu beruntung bila menerima Rustam. Ia akan menjadi satu-satunya insinyur pertanian di kampung ini, dan hendak menerapkan cara bertani zaman kini, hingga orang-orang tani tidak lagi terpuruk dalam kesusahan,” ungkap Palar sebelum meninggalkan rumah Banun.

    “Maafkan saya, Palar.”

    Penolakan itu menusuk harga diri Palar. Terlebih ini bukan pertama kalinya Banun menolak. Tiga bulan setelah suami Banun meninggal, Palar pernah hendak mempersuntingnya, tetapi Banun memilih membesarkan anak-anaknya tanpa suami baru. Sejak itu, Palar menyimpan dendam. Ia menyebarkan cerita ke seluruh kampung, memelintir kesederhanaan Banun menjadi sifat paling tercela. Dari mulutnya, lahirlah julukan Banun Kikir—nama yang melekat pada Banun hingga usia senjanya.

    (Karya Damhuri Muhammad, dengan penyesuaian)

    Manakah perilaku yang meneladani nilai-nilai utama dalam cerita di atas?

    Tentukan apakah setiap pernyataan berikut Tepat atau Tidak Tepat!

    Pembahasan:

    Untuk menjawab soal tersebut, kita perlu melihat nilai yang ditonjolkan dalam cerita, yaitu sikap Banun sebagai protagonis (tokoh utama). Sikap positif Banun yaitu kerja keras, kesederhanaan, dan tanggung jawab, serta tidak membalas atau membela diri meski difitnah.

    Sekarang, kita bahas masing-masing opsi.

    • Raka membantu temannya yang terjatuh dari sepeda → tidak tepat. Perilaku Raka adalah kebaikan hati untuk menolong orang yang kesusahan. Ini tidak ditunjukkan oleh Banun ataupun tokoh lainnya dalam cerita.
    • Bima menyapa temannya saat mereka bertemu di jalan → kurang tepat. Perilaku Bima menunjukkan sopan santun, seperti yang ditunjukkan oleh Banun ketika menolak pinangan Palar. Namun, sikap ini bukan merupakan nilai utama yang ditonjolkan dalam cerita.
    • Laila bangun lebih awal untuk membantu ibunya berdagang → tepat. Perilaku Laila menunjukkan tanggung jawab dan kerja keras, seperti sikap Banun dalam cerita.
    • Nindy selalu belajar sepulang sekolah agar nilainya baik → tepat. Perilaku Nindy mencerminkan kerja keras dan ketekunan, seperti sikap Banun dalam cerita.

    Dengan demikian, jawaban yang tepat adalah Tidak Tepat, Tidak Tepat, Tepat, dan Tepat.

    8.

    Sebuah Jaket Berlumur Darah

    (Sumber: konsep manifestasi modern dengan siluet dari Freepik.com)

    Sebuah jaket berlumur darah
    Kami semua telah menatapmu
    Telah pergi duka yang agung
    Dalam kepedihan bertahun-tahun.

    Sebuah sungai membatasi kita
    Di bawah terik matahari Jakarta
    Antara kebebasan dan penindasan
    Berlapis senjata dan sangkur baja
    Akan mundurkah kita sekarang
    Seraya mengucapkan 'Selamat tinggal perjuangan’
    Berikrar setia kepada tirani
    Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?

    Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
    Kami semua telah menatapmu
    Dan di atas bangunan-bangunan
    Menunduk bendera setengah tiang.

    Pesan itu telah sampai kemana-mana
    Melalui kendaraan yang melintas
    Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
    Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
    Prosesi jenazah ke pemakaman
    Mereka berkata
    Semuanya berkata
    Lanjutkan Perjuangan.

    (Karya Taufik Ismail)

    Dan di atas bangunan-bangunan
    menunduk bendera setengah tiang

    Makna kiasan pada larik tersebut menggambarkan peristiwa ….

    A

    suasana berkabung yang dirasakan di berbagai tempat

    B

    keprihatinan masyarakat atas tekanan yang mereka alami

    C

    ketegangan masyarakat akibat situasi perjuangan yang berat

    D

    rasa duka mendalam atas gugurnya pejuang dalam perjuangan rakyat

    E

    kesedihan bersama masyarakat terhadap peristiwa yang menyayat hati

    Pembahasan:

    Untuk menjawab soal tersebut, kita perlu memahami makna kiasan pada larik menunduk bendera setengah tiang. Ungkapan tersebut tidak dimaknai harfiah, tetapi sebagai simbol duka cita nasional atas suatu peristiwa besar.

    • suasana berkabung yang dirasakan di berbagai tempat → tidak tepat. Makna ini terlalu umum dan tidak menunjukkan sebab duka yang dimaksud dalam puisi.
    • keprihatinan masyarakat atas tekanan yang mereka alami → tidak tepat. Larik tersebut tidak menekankan tekanan hidup, tetapi duka atas peristiwa yang terjadi.
    • ketegangan masyarakat akibat situasi perjuangan yang berat → tidak tepat. Pada larik tersebut, yang digambarkan bukan ketegangan, melainkan ungkapan duka.
    • rasa duka mendalam atas gugurnya pejuang dalam perjuangan rakyat → tepat. Bendera setengah tiang merupakan simbol berkabung karena kematian tokoh atau pejuang, sesuai dengan konteks puisi tentang perjuangan dan pengorbanan.
    • kesedihan bersama masyarakat terhadap peristiwa yang menyayat hati → tidak tepat. Makna ini terlalu luas dan tidak menunjukkan gugurnya pejuang.

    Dengan demikian, jawaban yang tepat adalah rasa duka mendalam atas gugurnya pejuang dalam perjuangan rakyat.

    Daftar dan dapatkan akses ke puluhan ribu soal lainnya!

    Buat Akun Gratis